Burung yang Cerdas

Singapore, 7 June 2008

Hari ini shia baru berkesempatan mendengar (dan langsung mengetik) kotbah Dharma yang sebenarnya sudah lama shia save dalam hard disk dari mp3 ko David. Walau ceramah berdurasi tak sampai 15 menit, tapi cukup bermakna memberi kita nasehat dalam menghadapi hidup. Dan sekali lagi, walau ini ceramah Buddhist, tapi isinya lebih bersifat universal, semua saudara2 sedunia tidak mengira agama apapun, dan bangsa apapun boleh mengambil hikmat dari isi cerita serta ceramah ini.

Shia secara tulus mengucapkan terima kasih kepada Bhante Duta Mahastavira atas wejangan dharma yang disampaikan. Serta ko David yang mengizinkan shia “mengambil” file ceramah ini.

**************************************

Namo Sakyamuni Buddhaya (3x)

Hari ini Suhu akan kotbah dengan tema "Burung yang Cerdas".

Alkisah sebelum kelahiran Sakyamuni Buddha, sang Buddha pernah dilahirkan menjadi seekor burung. Beliau menyampaikan cerita sebagai berikut.

Pada zaman dulu ketika beliau dilahirkan sebagai burung, ia ketemu dengan seorang tukang tangkap burung. Penangkap burung ini sangat pintar, tiap hari dia menangkap banyak sekali burung dan semuanya dikandangi. Kemudian, setiap pagi tukang penangkap burung itu memberi makan burung dan memilih burung mana yang paling gemuk untuk diambil, dipotong dan dijadikan lauk pauk.

Burung yang cerdas ini menjadi ketakutan ketika ia melihat hal ini. Timbul dalam pikirannya, kapan giliran dia menjadi santapan makanan lauk pauk orang tersebut. Akhirnya burung yang cerdas ini berpikir, kalau dia tidak makan, dia akan jadi kurus, tapi kalau betul-betul  tidak makan, dia akan mati. Akhirnya dia mengambil keputusan dia makan, tetapi sedikit sekali. Ternyata betul, bulan demi bulan, dia selalu tidak terpilih untuk ditangkap dan dipotong. Badannya tetap kurus karena kurang makan, tetapi juga karena ia masih makan, ia tidak mati kelaparan. Karena badannya kecil dan tekadnya kuat sekali untuk keluar dari kandang burung tersebut, maka pada suatu hari, saat ada kesempatan ia berhasil keluar dan terbang bebas.

Teman-teman seDharma yang berbahagia, cerita Buddha ini memberitahukan kepada kita, seekor binatang saja kalau tekad kemauannya ingin selamat, kuat sekali dan tidak main-main, betul-betul bertekad dan diwujudkan dalam bentuk yang nyata, prihatin, hidup sederhana, akhirnya ia bisa keluar dari penderitaan yang ada. Sedangkan kita, apalagi kita umat Buddha, yang sudah beruntung mengerti Buddha Dharma. Sudah tahu bahwa hidup di dunia ini penuh bahaya. Karma buruk sedikit saja yang terjadi kita bisa menderita. Hidup di dunia ini tidak aman, secara jelas dan nyata kita bisa tua, kita bisa sakit, kita bisa meninggal dunia. Hidup di dunia ini secara nyata kita lihat, ada yang senang, ada yang susah. Kita sudah dikasih tahu oleh Buddha, sumber kesusahan itu berasal dari perbuatan kita sendiri yang baik dan buruk, kita sudah dikasih tahu oleh Buddha, hanya dengan perbuatan kita lah yang baik, kita bisa merubah nasib kita. Kenapa kita masih tidak mau sungguh-sungguh. Kenapa kita tidak mau fokus berjuang agar kita keluar dari kurungan penderitaan.

Hidup menyalahkan orang, hidup mengandalkan orang, hidup mengharapkan orang, hidup dengan cara demikian ini tidak menyelesaikan masalah. Kita tidak boleh terpengaruh oleh orang lain. Kita harus punya tujuan hidup kita sendiri. Kita harus tekun  berjuang memperbaiki karma kita sendiri. Kalau kita belum sungguh-sungguh berjuang, tentu kita tidak bisa bebas dari penderitaan. Perjuangan itu harus mengandalkan perbuatan kita, karma kita. Karma terdiri dari 3 hal: kemauan batin/pikiran kita, ucapan kita, dan perbuatan nyata kita.

Marilah ketiga hal tersebut kita latih dan kita belajar seperti burung yang cerdas itu yang kemudian menjadi Bodhisattva dan akhirnya menjadi Buddha. Kita belajar dari burung yang cerdas itu. Janganlah kita biarkan diri kita tenggelam dalam kebiasaan yang jelek. Kita harus bisa motivasikan jiwa kita ke arah yang baik. Tentu hanya dengan mengandalkan kemauan motivasi saja tidak menyelesaikan masalah. Harus kita wujudkan dalam bentuk yang nyata. Prihatin, tahu diri, membina diri, menanam karma baik terus menerus, karena sesungguhnya untuk merubah nasib perlu perjalanan yang panjang, tidak bisa seketika itulah nasib kita berubah. Kalau  tujuan hidup kita sudah mantap, cara hidup kita sudah jelas, walaupun kondisi masih sengsara, kita tetap terus berbuat karma baik, pasti hari esok akan cerah kembali.

Oleh karena itulah, cerita sang Buddha memberitahukan kepada kita walaupun kondisi kita bagaimanapun juga jeleknya, selagi kita punya kemauan, dimana kemauan itu kita wujudkan dalam bentuk yang nyata, kita bisa bebas dari penderitaan. Jangan lupa, hidup ini tumimbal lahir dan perjalanannya masih panjang sekali. Jangan biarkan kita hari tuanya sengsara, jangan biarkan kita nanti matinya ke neraka. Semua itu tergantung dari Anda sendiri. Mari kita bangkitkan kecerdasan dalam jiwa kita.

Kecerdasan batin terdiri dari 4 yaitu: yang terbaik, yang baik, yang buruk, dan yang terburuk.

Kecerdasan batin yang terbaik dan baik seperti burung itu. Dia tiap hari memperhatikan kenapa ada yang ditangkap dan tidak pulang lagi. Kemudian dia tahu, yang ditangkap itu adalah yang paling gemuk. Kenapa dia bisa tahu? Karena dia memberikan perhatian. Oleh karena itulah kita harus memberikan perhatian benar, konsentrasi benar terhadap perjalanan hidup kita sendiri. Kita harus tahu kita siapa, kekurangan dan kelebihan kita di mana.

Sehingga muncullah teori empat usaha mulia.

Kelebihan kita yang baik kita jalankan terus bahkan kita kembangkan. Kemauan kita yang baik yang belum bisa kita wujudkan kita berusaha mewujudkannya. Kekurangan kita, kejelekan kita, kebiasaan kita yang jelek kita koreksi. Kemauan jelek kita, kita jangan munculkan. Sesungguhnya diri kita inilah yang tahu diri kita sendiri. Kelebihan dan kekurangan kita sendiri yang tahu jelas adalah diri kita kalau kita berikan perhatian. Ajaran Buddha sebagai cermin untuk pedoman kita. Berikanlah perhatian khusus. Mari hidup berjuang memperbaiki diri. Suhu tidak mau melihat umat suhu, siswa2 suhu, umat Buddha, orang yang suhu kenal, sudah puluhan tahun belajar Dharma masih belum bisa bahagia. Itu tandanya belum serius membina diri.

Mari kita bangkitkan diri kita menjadi kecerdasan yang unggul, tahu kondisi kita sendiri dan prihatin berjuang. Minimal kita belajar kecerdasan yang baik, kita dimarahin orang, kita diomongin orang. Jangan marah dulu. Kita introspeksi. Betul kah omongan orang itu. Kalau betul tentu kita berterima kasih. Orang sudah berikan perhatian, buang waktu buang air ludah, buang tenaga ngomongin kita. Apapun juga motivasi orang itu, urusan orang itu. Boleh dia ngomongin kita karena iri. Urusan dia, karma dia yang dapat. Tapi omongan dia, harus menjadi bahan renungan kita, betul nggak itu. Betul kita terima kasih.

Karena tidak betul gimana. Kita juga harus terima kasih. Karma buruk kita berjalan hanya demikian saja. Omongan orang, hinaan orang, fitnahan orang. Kalau tidak betul bagaimana? Itu tandanya karma buruk masa lalu kita masih banyak. Sekarang wujudnya dalam bentuk kita diomongin orang, difitnah orang. Jangan peduli. Karma buruk itu segera lenyap. Buat apa omongan yang menfitnah itu kita simpan dalam hati kita. Akhirnya kita menderita sendiri. Apalagi muncul rasa ingin membalas. Perbuatan apapun juga yang buruk, walaupun asalnya gara-gara dia, tetap perbuatan kita. Tetap kita juga yang terima karma pertamanya. Jangan biarkan kita menjadi kecerdasan yang buruk. Sengsara dulu, miskin dulu, tidak ada kesempatan dulu, baru mau merubah diri, tentu sungguh menderita. Apalagi kalau kecerdasan kita yang terburuk. Tersiksapun juga masih nggak mau koreksi diri. Kecerdasan yang ini tidak ada obatnya. Yang ini akan sengsara tumimbal lahirnya. Oleh karena itulah makin kita miskin, itu tandanya karma dulu kita jelek. Kita harus perbaiki pada kesempatan kita sekarang ini sebagai manusia. Masa sih kecerdasan kita kalah dengan burung itu?

Teman-teman se-Dharma yang berbahagia, sedikit renungan ini semoga bisa bangkitkan motivasi Anda berjuang untuk memperbaiki diri. Ingat kita sengsara, kita juga yang susah. Kita maju, kita juga yang menikmatinya. Demikian adanya, semoga Anda beruntung. Amitofo.

Leave a Reply