Kebahagiaan di Mataku
June 11th, 2008 by ct-chiushiamy only one composition "long
story" ever written, one of my unforgetable memory ^^
KEBAHAGIAAN
DI MATAKU
“Cici,
da w blg g sa ksh w brg lg.dasar”. Kata-kata dalam sms hari ini terus saja
terngiang-ngiang di telinga Shino. SMS dari Keiko akhir – akhir terkesan begitu
berbeda dari biasanya, lebih formal dan singkat.
“Shino,
kok melamun sih?” tegur Julia. Shino akhirnya baru menyadari bahwa dirinya
sedang diperhatikan oleh teman satu kost nya itu. Dengan cepat, ia membalas
sapaan Julia sambil senyuman.
“Nggak ada apa-apa kok.” Shino
lalu mencoba menebarkan senyum terindahnya hingga tanpa sadar ia melebarkan bibirnya
hingga ‘bimoli’ alias bibir monyong lima
senti. “Ha…ha…ha…, loe sedang
latihan untuk test casting jadi pemeran pembantu ya” Julia tertawa melihat aksi
Shino.
“Idih,
Julia kok gitu sih. Ini namanya latihan olah mulut. Cepe’ deh…”, balas Shino
sambil memperagakan gerakan ala cape’ deh karena senyumannya diledekin Julia.
“Hehehe,
ya deh, wa mao siap-siap dulu ya. Maklum business woman nee,” Julia yang
memahami bahwa Shino sedang ingin sendirian pun kembali sibuk dengan
dandanannya karena sebentar lagi Romy akan datang menjemputnya. Setelah Julia
berlalu, Shino kembali terdiam, matanya menerawang jauh.
Kembali teringat perubahan
sikap Keiko. Setahun lebih berlalu sejak Shino mengenal Keiko. Mereka bertemu
untuk pertama kalinya di Vihara Buddha Warman (VBW). Tapi pada waktu itu, Shino
sama sekali tak pernah terpikir bahwa dirinya akan mengenal Keiko lebih dekat.
Keiko yang dikenalnya waktu itu sedang duduk di kelas 3 SMP, tetapi dia lebih
sering bersama beberapa muda – mudi. Sementara Shino lebih sering bersama
anak-anak GAB karena dia adalah pembina GAB di sana yang diketuai oleh ko Ali.
“Shino,
ini Keiko, dia akan membantu kita membina anak-anak.”, begitu kata ko Ali suatu
ketika. Shino yang sudah mengenal Keiko walau sekedar nama, merasa senang sekali
karena ada yang membantu mereka. Apalagi Keiko nantinya akan mengajar musik.
“Eh,
Keiko bisa main musik ya?”, tanya Shino penuh minat.
“Cuma
bisa dikit-dikit aja kok Ci”, jawab Keiko merendah.
“Wah, boleh donk nanti kalau ada
waktu ajarin wa main ya, khususnya yang pake tangan kiri”, kata Shino. “Boleh,
tapi ci Shino nanti bantu wa ajarin adik-adik yang mau belajar musik ya. Kan
adik-adik GAB lebih mengenal cici”, minta Keiko.
“Beress
Boss. Tapi dengan satu syarat, sekarang mainin donk satu lagu. Pengen dengar
niii.”
“Hehehe,
cici ni ada-ada aja wor… wa nggak bawa buku lagu lho” Jawab Keiko.
“Oo, yang Keiko suka mainkan aja.
Pasti ingat kan ?”bujuk Shino.
“Ya
deh. Tapi janji ya, nanti kalau dah dibuka kelas musik, cici mesti bantu wa.”
jawab Keiko. “Yes Boss”, jawab Shino sambil mengacungkan 2 jari dan
meletakkannya di pelipis. Mereka pun berjalan bersama ke arah keyboard yang ada
di ruang baktisala.
Surprise banget saat Shino pertama kali
mendengar alunan musik yang dimainkan oleh Keiko dari keyboard di VBW. Nggak
sangka Keiko yang kecil imut itu bisa memainkan sebuah lagu yang dipopulerkan
Richard Clayderman. Marriage D’amor adalah permainan piano Keiko pertama kali
yang didengar oleh Shino. Shino jadi pengen bisa memainkan piano.
Sejak
itu, Shino banyak membantu Keiko. Dari mencari buku bergaris khusus musik,
sampai bahan-bahan untuk mading karena Keiko pun diminta ko Ali untuk
mendekorasi mading di VBW. Kadang Shino suka meminta Keiko memainkan lagu.
Selama
bergaul, Keiko di mata Shino adalah anak yang ceria, ramah, suka menolong,
hardworker, dan paling suka to the point kalau membicarakan sesuatu,
makanya kadang Shino tertawa sendiri melihat aksi Keiko yang suka seenaknya
meninggalkan ruang rapat.
“hahahaha,
Keiko…keiko… dunia akan terbalik jika loe bisa betah ikut rapat sampai slesai”,
gurau Shino.
“Biarin
aja ci, kalau ko Ali tidak juga mengubah cara rapatnya, wa tidak akan betah
ikut rapat lama-lama. Rasanya nggak ada guna terus dengar dia ceramah, lebih
baik wa kerjakan hal yang lebih bermanfaat.”
Shino
tersenyum mendengar pendapat Keiko. “Huih, Keiko betul-betul berani”, ujar
Shino dalam hati.
Pernah
satu kala, saat beberapa muda-mudi ingin kebaktian, Ketua muda-mudi, ko Budi
meminta Shino untuk mencari pemimpin kebaktian. Sayangnya para pembina GAB
banyak yang nggak datang, jadi Shino harus membina anak-anak. Sementara ko Ali
belum datang. Spontan aja terlintas wajah Keiko, karena Keiko sudah biasa
mimpin kebaktian. Kelas musik Keiko biasanya dimulai jam 11, sedangkan
kebaktian muda-mudi dimulai jam 10. Shino segera naik honda pergi menjemput Keiko,
maklum jarak vihara – rumah Keiko lumayan dekat. Ketika hampir sampai di depan
pagar rumah Keiko, Shino baru menelepon ke rumah Keiko.
“Hallo,
bisa berbicara dengan Keiko?”, tanya Keiko.
“Ya,
saya sendiri”, jawab penerima telepon tersebut yang tak lain adalah Keiko
sendiri.
“Eh, Keiko nanti ada pergi ke VBW
kan?”
“Iya, sebentar lagi Keiko ke sana.”
“Oh
baguslah, wa sudah di depan rumah loe. Cepetan yaa”
“Hahhh!!!!???”
“Hurry..
cepetan.. ko Budi suruh loe yang mimpin”, Shino pun mengakhiri pembicaraan sambil
tangan memegang perut menahan ketawa. Karena suara Keiko tadi terdengar surprise
gitu. Lalu tak berapa lama, Keiko pun keluar sambil berlari-lari menenteng tas Harry
Potter kesukaannya.
“Aiyeeooo…
cici datang kok tiba-tiba. Wa jadi buru-buru deh. Ntah apapun barang – barang
yang wa masukkan dalam tas wa,” jawab Keiko sambil duduk di belakang Shino.
“hahahaha,
wa sengaja. Eh, nggak dink.. abis ko Budi suruh wa segera cari orang yang bisa
mimpin kebaktian. Orang Dewi nggak datang ke vihara, mereka sepertinya ada
acara sendiri.”, tangkas Shino.
“wah,
untung loe nggak masukin mama loe sekalian ke dalam tas. Hahahaha”, tambah
Shino.
“pokKk…”,
terdengar suara helm dipukul dari belakang. Hahahaha ternyata Keiko meluahkan
“es mosi” yang ada dalam hatinya, karena kejahilan Shino.
“hehehe,
iya deh, sorry.. sorry, laen kali wa akan telepon loe lebih dulu deh”, sambut
Shino sambil cengar-cengir.
Ternyata
Keiko kadang juga nggak kalah jahilnya. Pernah beberapa minggu setelah absent
karena kesibukan sekolah, saat dia datang, dia menutup mata Shino. Shino yang
tidak mengira Keiko akan datang ke VBW, sembarang menebak nama orang. Hampir
dia mau sebut nama suhu, tapi kalau dipikir, nggak mungkin suhu bisa sejahil
ini. Lagian saat Shino memegang tangan orang yang sedang menutup matanya,
sangat jelas tu tangan cewek.
“Gita
yoo?”, tebak Shino menyebut nama Gita, satu pembina GAB sambil berusaha
melepaskan tutup matanya dari tangan orang jahil itu.
“hahahaha
ci Shino nggak punya indera ke-6. huh.. payah….?”, canda Keiko sambil
melepaskan tangannya dari mata Shino.
“Walah,
ada angin baik apa sampe loe datang ke VBW agak pagi?
“Eh…
emang nggak boleh?”
“Nggak ada yang larang kok. Kan baru
jam 9 lewat, Dragon Ball – nya dah habis? Biasanya kan u datang jam 10 ke
atas…”, ujar Shino.
“Aduh…
psstttt jangan bilang keras-keras laa, malu ma adik-adik GAB.”, Keiko
cepat-cepat menarik tangan Shino.
“Hihihihi, biarin aja, toh memang
benar kan .. weqk…”, canda Shino sambil mengejek Keiko.
“Ci
Shino… awas yaaaa”, Keiko berusaha mau memukul Shino.
“Oo
wo te thien aaa!!!”, seru Shino sambil berlari menghindari pukulan Keiko.
Begitulah,
walau pertemuan dengan Keiko serta teman-teman kecil GAB hanya satu kali
seminggu, Shino merasa bahagia sepulang dari vihara. Kebahagiaannya akan
bertambah lengkap, seandainya setiap minggu dia bisa benar-benar ikut kebaktian
sebagai umat biasa dan mendengar kotbah Dharma yang disampaikan anggota Sangha.
Bagi Shino, dirinya begitu haus akan santapan rohani. Banyak rahasia di alam
ini yang masih belum diketahuinya. Dari orang-orang di sekitarnya, dari
masalah-masalah yang dihadapi temannya, dia banyak belajar cara mengatasi
hidup.
Sampai
akhirnya suatu hari Shino menerima sms.
“Ci,w
minta saran dong. Gini ceritanya. Pakek inisial aja deh………” Shino sempat heran menerima
sms dari Keiko yang panjang sampai 3 sms sekali kirim pada tanggal 4 Mei 2006.
Tak biasanya Keiko sms ke dia jika bukan pas hari minggu sekedar mengatakan
bahwa dia datang terlambat ke vihara atau dia tidak bisa datang ke vihara. Hari
itu, Shino berusaha menyelami masalah yang dihadapi Keiko di sela-sela
kesibukannya. Keiko kala itu rupanya tengah bingung menghadapi masalah teman.
Ada 2 orang siswa yang suka dengan dia, tetapi yang satu merasa sakit hati dan
mau menghindari dia, Padahal Keiko hanya menganggap semuanya teman.
“Hallo,
Keiko ya, ini wa Shino, sorry wa tadi ada kegiatan, jadi tidak bisa langsung
balas sms loe. Begini…..” Shino memberikan pendapatnya atas masalah yang tengah
Keiko hadapi, masalah pertemanan di sekolah.
Beberapa
hari itu, komukasi di antara mereka tidak sebatas satu minggu sekali saja.
Shino jadi sedikit memahami Keiko. Dari sinilah Shino merasa seperti
mendapatkan seorang adik, apalagi kejahilan Keiko sebenarnya mengingatkan dia
pada seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya, tapi karena terpisah oleh
jarak, akhirnya Shino pun tidak bisa dekat dengan orang tersebut.
Shino
tiba-tiba menjadi ingin mengetahui kapan kali pertama dia mengenal Keiko. Tapi
dia sedikit lupa. Akhirnya setelah membaca diary elektroniknya, barulah Shino
menyadari perkenalannya dengan Keiko sudah berlangsung satu tahun lebih,
tepatnya 10 Mei 2006, genap 1 tahun 1 bulan dia berkenalan dengan Keiko.
Suatu hari di waktu senggangnya,
Shino merasa ingin sekali memberikan beberapa benda yang mungkin berarti bagi
Keiko, yaitu buku motivasi dan DVD film kesukaannya. Memang hari itu bukan hari
special bagi siapapun, tapi paling tidak, Shino ingin memberikan itu sebagai
kenangan awal pertemanan mereka dan juga rasa terima kasih karena telah memberi
pelajaran hidup secara tidak langsung. Bersamaan dengan itu, Shino mengetik
sebuah surat yang ditujukan pada Keiko, meluahkan perasaannya terhadap
pertemanan mereka ini. Shino tidak tahu mengapa ingin saja membeberkan kisah
lamanya. Dan dia memberi sedikit semangat kepada Keiko agar bisa secara
bijaksana mengatasi masalahnya sendiri.
“Mengenai
si A,B,C atau Z nanti, semua orang memiliki hati yang kadang sulit kita duga.
Tidak penting berapa banyak hal yang kita ketahui tentang sesuatu, tetapi yang
penting, seberapa besar kita bisa mendalami apa yang kita ketahui. Begitu juga
dengan pelajaran…”
Tak
disangka uneq-uneq Shino mendapat respon dari Keiko yang membalasnya melalui
email.
“W tau kok apa yang harus w lakukan
sekarang. Kata2 cici memang benar. So tenang aja ma masalah ini. Bentar jg
beres kok. Bagi w, adalah tebarkanlah sebanyak mungkin kebahagian pada orang
sekeliling mu. Terutama untuk orang yang telah pernah engkau sakiti hatinya.
Kita sebagai manusia tidaklah sempurna. Pasti bisa menyakiti org kan.”
Tapi
satu kesalahan yang dilakukan Shino, dia terlalu menganggap bahwa seseorang
akan senang dengan pemberiannya. Seperti dirinya yang selalu menghargai apa
yang diberikan oleh orang yang dia kenal. Shino secara diam-diam mengisi pulsa
elektronik kepada Keiko, setelah Keiko mengatakan bahwa dia tidak bisa SMS
sementara karena pulsa simPATI nya mau habis. Kebetulan dia baru gajian, dan
Shino merasa akhir-akhir ini Keiko sering menggunakan pulsanya untuk sms atau
telepon dia.
Tapi
malam itu juga, Keiko meneleponnya.
“Cici yang kirim pulsa ya? Ngapain?.
Wa kan nggak suruh cici kirim pulsa?!”, gerutu Keiko.
“Iya, tapi u kan banyak keluar duit
buat telepon atau sms wa….”, jawab Shino membela.
“Wa telepon cici, tu kan karena wa
sendiri yang mau. Jadi lain kali cici jangan lagi pernah kirim pulsa ke wa.”
“Oh.
Sorry ya kalau begitu. Wa nggak akan lagi”, jawab Shino penuh penyesalan.
Sejak
itu, Keiko jarang telepon dan sms lagi. Kadang sms Shino juga tidak dibalas
oleh Keiko. Sejak itu, Shino jadi berpikir dua tiga kali kalau ingin
menghubungi Keiko.
Pada
hari Waisak, 13 Mei 2006, Shino melewatkan hari Agung itu di VBW seharian. Baru
kali ini, dia betul-betul merasakan kedamaian. Dia bisa ikut pelafalan nama
Buddha dari pagi hingga sore.
Pada
malam puncak perayaan, kembali untuk ke-3 kalinya shino ikut kebaktian di VBW.
Kali ini Shino bersama Keiko dan pengurus lainnya membantu mengawasi anak-anak
dalam kebaktian Tri Suci Waisak yang dibuat pada petang hari. Sayangnya karena
cuaca yang tidak mendukung, agak sukar bagi dirinya dan teman-teman untuk
menenangkan situasi di ruang serbaguna yang menjadi ruang tempat anak-anak
melaksanakan kebaktian itu. Suasananya sama persis seperti di tengah pasar,
hiruk pikuk.
Tapi
Shino menyenangi kebersamaan ini. Walau agak sedih juga tidak bisa mendengar
kotbah dengan baik karena cuaca yang tidak mendukung.
Malam
Waisak itu, karena hujan, akhirnya Shino pun menginap di rumah Keiko. Hondanya
dimasukkan ke dalam garasi rumah Keiko. Shino tidak pernah menyangka bahwa
dirinya bisa diberi kesempatan seperti itu. Ini kali pertama Shino menginap.
Keiko yang gemar membuat sesuatu dari karya tangannya sendiri, malam itu
memberikan sarung HP pada Shino. Shino merasa gembira sekali. “Terima kasih,
Keiko..”
Sepertinya
tentang Keiko yang tidak mau lagi berteman dengan nya, itu hanya perasaan Shino
aja. Pengalaman selama di rumah Keiko di hari malam Waisak itu memberi satu
kenangan bagi Shino. Yang jelas, dia merasa senang sekali. Keesokkan paginya,
sebelum ikut kebaktian Memperingati Hari Tri Suci Waisak bagi anak-anak GAB,
Keiko dan kedua orangtuanya membawa serta Shino makan makanan kesukaan Keiko
dan keluarganya, yaitu Mie Bangka. “Wah.. enak banget… Keiko. Pantasan aja
semalam loe bilang sanggup menghabisisi dua porsi. ”, kata Shino.
“hehehehe, enak kan.. pilihan wa
ngak pernah salah. Ayo, makan yang lahap yaaa.”, kata Keiko.
Setelah
makan, papa Keiko mengantar anaknya dan Shino ke vihara. Hari itu Keiko yang
memimpin kebaktian dalam rangka memperingati hari Waisak bagi anak GABI VBW.
Karena tidak ada orang yang mau mukul Gong, akhirnya Shino mendampingi Keiko.
Setelah
selesai kebaktian, Shino, Keiko, ko Ali dan beberapa anak-anak serta muda-mudi
VBW membersihkan vihara setelah acara semalam. Airin - sahabat baik Keiko
datang.
“Hai
Airin, dah lama ya tidak jumpa loe, apa kabar ne?”, tanya Shino saat berpapasan
dengan Airin.
“Baik ci. Iya, belakangan ini
persiapan untuk ujian. Kan bentar lagi udah mau UAN, lagian wa ikut semacam
seminar gitu. hmm… Keiko ada ci?”, tanya Airin.
“Oh gitu toh. Oiya, Keiko ada.. tuh
di sana”, kata Shino sambil menunjuk ke arah Keiko yang sedang menuruni tangga.
“Hoii
Airin, akhirnya loe datang juga. Kok lama banget?” sambut Keiko sambil bergegas
turun ke arah Airin.
“Tadi wa kan kebaktian di sekolah
wa. Ini juga baru pulang dari sana.”, jawab Airin.
“Pantesen aja beberapa waktu lalu
Keiko curhat ke wa. Rupanya Airin busy belakangan ini. Airin kan best
friend-nya Keiko.” gumam Shino dalam hati. Shino hanya memandang dari jauh
saja. Dapat Shino rasakan kerinduan di mata Keiko.
Tak
berapa lama, Keiko dan beberapa pembina serta Airin melakukan aktivitas baru,
mencuci piring sendok makan dan mengepel lantai serba guna.
“Wah,
asyik banget liat Keiko dan yang lain bahu membahu seperti itu. Salut deh sama
mereka. Nggak disuruh tapi mau lakuin itu. Wa jadi tak berani merusak suasana,
mending wa bersihkan yang lain aja.”
Shino
pun memutuskan untuk mengerjakan hal yang lain saja, menyapu halaman vihara.
Dia lebih menikmati kesendiriannya. Shino memang begitu, di saat orang
berkumpul dan merasa senang, ia enggan untuk mendekati, kecuali jika seseorang
dari kumpulan itu mengajaknya bergabung. Setelah selesai menyapu, Shino mencari
keiko, ternyata mereka sudah selesai membersihkan ruang serbaguna dan sedang
ngobrol. Shino pun menuju ke ruang baktisala untuk bermain Keyboard. Sebenarnya
dia ingin sekali meminta Keiko untuk memainkan musik. Satu per satu lagu dia
mainkan, walau hanya sebatas memainkan melodinya saja. Hingga tak sadar,
ternyata Keiko, Airin dan beberapa teman yang tadi mengobrol bersama sudah
pulang. Shino terkejut, sendal Keiko sudah tidak ada.
“Aduh…
Keiko.. pergi gak bilang-bilang. Padahal honda wa ada di rumahnya.” Beberapa
kali Shino mencoba telepon ke HP Keiko setelah dia tidak nampak batang hidung
Keiko dan kawan-kawannya di luar lingkungan VBW. Tapi HP Keiko tidak aktif.
Mungkin karena tidak ada battery.
Dengan berlari-lari kecil, akhirnya
dari kejauhan, Shino mengenali 2 sosok tak asing yang ada 100 meter di
depannya. Tampak olehnya, Keiko dan sahabatnya berjalan bersama bergandengan
tangan. Walau sempat iri sebentar, tapi shino senang melihat keakraban mereka.
Mengingatkan dia dengan sahabat lamanya yang sekarang sudah tinggal di
Surabaya. Akhirnya Shino berhasil menyusul setelah mereka berdua berhenti
di satu toko untuk berbelanja.
Keiko yang melihat Shino dari jauh,
baru sadar bahwa dia lupa kalau honda Shino masih ada di rumahnya.
“Hehehe, sorry cici… Abis, wa lebih suka pulang jalan kaki. Biasa kan cici suka
maksa mau antar wa pulang naik honda cici. Makanya wa suka tunggu sampai cici
pulang atau pas cici sedang sibuk baru wa pulang.”
“Dasarrrrr”,
kata Shino.
“Sori
ya ci. Soalnya wa rasa lebih nyaman, lebih tenang kalau jalan kaki pulang dari
vihara,” ujar Keiko membela diri sambil berjalan bersama, pulang menuju ke rumahnya.
“Ya..
wa mengerti sekarang.” Kata Shino yang rupanya mulai merasakan betapa enaknya
jalan kaki. Biasa Shino merasa kasihan melihat Keiko berjalan kaki. Lumayan
jauh jarak rumah Keiko dari vihara jika berjalan kaki apalagi jika situasi
panas, sehingga ia menawarkan jasanya untuk mengantar Keiko pulang. Setiap
ditawarkan, Keiko dengan sopan menolak. Karena Shino terus – terusan memaksa,
akhirnya Keiko pun bersedia diantar pulang. Sekarang Shino merasa bersalah.
Setelah
sampai di rumah Keiko, mereka bertiga istirahat sebentar. Keiko menyuruh Airin
untuk tinggal lebih lama karena dia sudah lama tidak mengobrol bersama. Sambil
Shino beristirahat menghilangkan rasa capek sehabis berjalan, Shino mendengar
banyak kenangan indah Keiko dan sahabatnya yang ternyata sudah dikenalnya dari
kecil itu. Shino pun ikutan tertawa manakala Keiko dan Airin itu menceritakan
kisah lucu mereka ketika sedang bermain bulu tangkis, dan lain sebagainya.
“Aduh,
wa sudah bersalah pada Keiko. Tak seharusnya wa bersikap seperti ini selama
ini. Tak seharusnya wa memaksa Keiko untuk wa antar pulang. Keiko pasti ingin
singgah di satu tempat sebelum pulang ke rumah.”, gumam Shino dalam hati.
Tak
berapa lama kemudian Shino pamitan pulang. Sesampai di kost, Shino memikirkan
tentang semua hal yang dia alami belakangan ini. Setelah sekian lama akhirnya
Shino menulis luahan hatinya dalam secarik kertas. Terdiam sebentar memikirkan
kata-kata yang cocok, akhirnya perlahan dia menggoreskan pena di atas kertas
putih itu. Perlahan namun pasti, pena menari – nari di atas kertas. Dari kertas
putih polos, akhirnya terukir kata-kata yang mungkin hanya Shino yang
memahaminya.
Kebaikan
di matamu belum tentu baik di mata orang
Kebaikan kadang membuat orang menjauhimu
Akankah kau biarkan dirimu begini?
Tidak….
Masuk dalam dunianya bukan satu yang diharap
Biarlah seperti dulu
Bertemu sekedarnya
Bicara sekedarnya
Justru itu yang berarti
Daripada
seribu kata tak berarti
Lebih baik satu patah kata yang membawa kedamaian
Daripada seribu syair tak berarti
Lebih baik satu syair yang memberi ketenangan dan kedamaian
Daripada
seribu kebaikan kau beri yang membuatnya takut dan menjauhimu
Lebih baik tidak memberi apa-apa yang justru membuat hatimu dan hatinya tenang
Hidup
memang sulit ditebak
Baik buruk begitu tipis perbedaannya
Tak disangka kebaikan membuahkan rasa tak nyaman
Andai ku mampu merubahnya….
Kejadian
yang terjadi beberapa hari itu sempat menyita pikiran Shino. “Cici, da w blg g
sa ksh w brg lg.dasar”, kembali Shino membaca sms Keiko yang diterimanya pagi
tadi. Tadi Shino memang datang ke VBW dan singgah sebentar ke rumah Keiko
memberikan roti untuk keluarga dia. “W g beri u apa2 lagi kok.Sbnrnya, itu
untuk membalas kebaikan ortu u yg da traktir w mkn”, balas sms Shino pada
Keiko.
Shino
ingin sekali mengatakan kepada Keiko bahwa dirinya tidak pernah mengharapkan
apa-apa dari perkenalan ini. Apapun yang diberi semua betul-betul murni tanpa
harapkan imbalan, seperti kasih seorang ibu kepada anaknya, begitu juga yang
ingin dia ungkapkan, bahwa dia menganggap Keiko sebagai adik. Samar-samar Shino
mendengar alunan lagu,
”Kasih
ibu kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa, Hanya memberi tak harap kembali,
Bagai sang surya menyinari dunia.”
Hati
Shino betul – betul merasa serba salah dengan tindakan yang dia lakukan
belakangan ini, tapi dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia mau berbuat itu.
Bukan Keiko yang berubah, tapi Shino sendiri yang terlalu merasa. Kepada Julia
saja Shino jarang memberikan barang. Kembali, Shino menulis luahan hatinya.
Kebaikan dalam kata-kata menciptakan rasa percaya diri
Kebaikan dalam berpikir menciptakan kebijaksanaan
Kebaikan dalam memberi menciptakan kecintaan
Untuk bersahabat dekat dengan mu
butuh banyak pengertian, waktu, kepercayaan, dan pengorbanan.
Dalam hidup manusia memiliki mimpi
ada yang mengejar dan mewujudkannya
ada yang mundur dan membuangnya
ada pula yang diam dan hanya menyimpannya sepanjang sisa hidupnya
mungkin untuk impian tertentu aku adalah manusia yang terakhir itu
Shino
pun dalam hati berdoa, berharap semoga minggu-minggu selanjutnya, dia tidak
akan membuat Keiko merasa tidak nyaman lagi dengan kehadiran dirinya. Dia ingin
Keiko yang dulu masih suka menjahilinya, sengaja memegang kepalanya. Dan Shino
hanya akan menganggap Keiko sebagai seorang teman se-Dharma jika itu yang Keiko
inginkan. Shino tahu, Keiko telah memiliki dunianya sendiri.
“Kebahagiaan di mataku adalah melihat orang yang kusayangi bahagia
walaupun itu berarti harus dengan pergi meninggalkannya sekalipun.”
Shino
mengakhiri goresan pena di diary-nya dan menatap diary yang telah menemani
kisah suka - dukanya selama bertahun-tahun sampai akhirnya Shino pun tertidur
untuk menyambut hari esok dengan lebih baik.
Medan , 18 Mei 2006
Cute
=================================================
P.S. : to Someone, thanks sudah menjadi sumber
inspirasiku. Percayalah, aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa tak
nyaman. Semoga kita bisa berteman selamanya.